Kurmin Diduga Ancam Bunuh Anak Direktur PT Golden Gemini

  • Bila tak mau berdamai dan serahkan pengelolaan lahan parkir Komplek Ruko Rajawali

PALEMBANG – Perkara lahan parkir komplek Rajawali yang akhir- akhir ini menjadi sorotan publik tampaknya semakin memanas, hal ini dipicu dengan adanya ancaman terhadap Christine Suliandi, Direktur Utama PT Golden Gemini yang diduga dilakukan oleh Kurmin Halim, Direktur PT Pelayaran Sakti Inti Makmur, dalam ancamannya, Kurmin menyebutkan akan Membunuh Linda, anak Christine Suliandi.

‎.” Ya, ancaman tersebut dikatakan Pak Kurmin melalui telepon kepada klien saya Bu Christine Suliandi, saat itu Pak Kurmin bilang, apabila klien saya tidak mau berdamai terkait perkara lahan parkir yang kini berbuntut pengaduan tindak pidana dan saat ini sedang ditangani Polda Sumsel. Maka Pak Kurmin akan membunuh Linda, akibat hal ini klien saya merasa tertekan, Linda itu anak klien saya yang saat ini menetap di Jakarta,” ujar Elvis Hitijahubessy SH., MA., ADV, kuasa hukum Christine Suliandi saat memberikan keterangan pers di Hotel Clasie kemarin.

Elvis menambahkan, bahwa klien nya tersebut tidak pernah meminta pengelolaan lahan parkir di komplek ruko Rajawali diserahkan pada nya. namun kepercayaan ini diberikan langsung oleh Pak Swandra Chandra kepada klien saya karena dari awal dibangunnya Komplek Ruko Rajawali ini, Klien saya adalah orang pertama yang melakukan kerja sama dengan Pak Swandra Chandra, baik itu saat pembangunan Hotel Clasie ataupun pembangunan gedung lain nya di area Komplek Ruko Rajawali, apalagi mengingat hotel clasie memiliki 18 bangunan ruko, sementara pak Kurmin hanya memiliki tiga ruko saja, ujarnya

Selain itu, sambung Elvis rasanya sangat naif apabila hanya masalah lahan parkir, Pak Kurmin sampai mengambil tindakan yang berlebihan, mengingat jabatan yang saat ini diemban Pak Kurmin sebagai Ketua PSMTI Sumsel, dimana seharusnya Pak Kurmin mampu menjadi contoh yang baik serta dapat menciptakan keselarasan antar warga tionghoa, bukan malah sebaliknya. Jabatan ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Sumsel itu bukan ajang untuk terlihat supaya lebih prestisius, tetapi ajang pembuktian diri bahwa bisa membawa marga Tionghoa yang dikenal sebagai marga yang mampu merangkul semua masyarakat tidak hanya sebatas ras, suku,bangsa ataupun golongan, “ujarnya.

Saat kejadian, jelas Elvis, tak hanya memasang pagar pembatas ‎ di lahan parkir komplek Rajawali hingga kasus ini meruncing menjadi pengaduan mengenai pengerusakan dan pencurian di pihak kepolisian, tetapi juga Pak Kurmin melalui kuasa hukumnya melayangkan surat somasi kepada Pak Swandra Chandra.

” Isi somasi tersebut agar segera membatalkan surat kuasa nomor 73 yang dibuat di hadapan Notaris Fauzie SH mengenai pengelolaan lahan parkir komplek Ruko Rajawali yang diserahkan kepada klien saya, dan dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Pak Kurmin tidak hanya merupakan pelanggaran hukum saja tetapi juga pelanggaran HAM (Hak Azazi Manusia) karena melakukan intimidasi terhadap seseorang warga negara yang dinyatakan bebas secara demokrasi, negara kita ini bukan negeri barbar, harus diingat itu.” tandasnya.

Saat ini, ujar Elvis, pihaknya ‎menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat penegak hukum yang berwenang.” informasi yang kita terima, Pak Kurmin sudah menjalani pemeriksaan guna diambil keterangan, dari pihak kita juga siap memberikan keterangan apapun apabila diperlukan, hal ini guna membantu pihak kepolisian agar dapat membuat permasalahan ini menjadi terang benderang, kalau kita tidak salah, kita bukan bandar narkoba, kenapa harus takut, kita ingin masalah ini cepat selesai, karena banyak kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian ini, penyewaan di gedung Rajawali Grand Ball room juga banyak dibatalkan karena adanya perkara ini, siapa yang mau ganti rugi, kalau ada yang mau ganti rugi, mau sepuluh tahun tidak operasional juga klien saya mau tunggu,” ujar Elvis diakhir pers rilisnya. (adv/Mella)

You might also like More from author

Leave A Reply