SDN 230 Palembang Upacara Unik di Gang Sempit Sekolah

Upacara dengan berbaris-baris rapi sudah biasa kita lihat sehari-hari. Telebih upacara bendera di sekolah. Terutama pada hari Senin, biasanya upacara seperti ini saban dilakukan dengan aturan yang sudah baku. Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di sekolah dasar saja tapi juga di SMP dan SMU. Para siswa dan guru biasanya berbaris rapi dan teratur, dihalaman sekolah yang luas.

Kalau di sekolah-sekolah tersebut upacaranya di di halaman sekolah yang luas, berbeda dengan upacara di sekolah dasar yang satu ini. SD N 230 tepatnya. Di sekolah yang berlokasi di jalan Ki Marogan Mataram Palembang ini upacaranya sangat unit. Para siswa tidak berbaris layaknya ucapacar bendera. Namun sebaliknya mereka berbaris memanjang layaknya antrian di loket atau menunggu pembagian sembako. Bentuk sekolah yang memanjang dan terdiri dari dua bangunnan itu seperti sebuah gang sempit. Dua gedung dipisahkan satu pelataran sempit, dan tempat inilah yang dijadikan lokasi upacara bendera.

Realitas ini sudah berlangsung lama, bahkan sejak SD ini berdiri. Seperti Senin (28/12) lalu misalnya. Siswa – siswi SD N 230 yang mengenakan pakaian putih merah dilengkapi dengan atribut lainnya memenuhi halaman nan sempititu. Mereka seolah tak peduli akan kondisi yang ada. Kondisi yang menyesakkan dada ini terlihat nyata. Sudah sempit, tempatnya becek pula. Hal yang patut diapresiasi, kenyataan ini tidak mematahkan semangat para murid dan guru untuk melaksanakan upacara bendera saban senin pagi itu. Mereka tetap berbaris rapi memanjang memenuhi halaman sekolah yang j juga digunakan sebagai tempat parkir kendaraan beroda dua.

Guru dan murid sudah sering mengeluhkan hal ini. Apalagi jika turun hujan dan air pasang bukan hal yang aneh jika halaman sekolah ini digenangi air, dan upacarapun terpaksa tidak dilaksanakan. Proses belajar mengajar pun ikut terganggu.

Kondisi miris lainnya pun terlihat pada sekolah ini. Pagarnya yang berbuat dari kayu telah memudar warnanya. Sebagian gedung Atap Lantai dan Dindingnya (Aladin) sudah mulai usang dimakan usia. Kesannya sekolah ini memang sudah tak layak untuk menampung anak -anak

Apalagi untuk melaksanakan proses belajar mengajar.

Sudah ada keluh-kesah dari pihak sekolah yang disampaikan kepada pemerintah namun belum ada jalan keluar atas persoalan ini. Sudah tentu para guru dan juga siswa berharap permasalahan ini bisa diatasi. Apalagi sekolah ini letaknya jauh dari perkotaan dan dikelilingi rumah – rumah penduduk .

Kepala Sekolah Dasar Negeri 230 Palembang Nuraini mengakui, sempitnya lahan yang dimiliki tak mengurangi minat anak didiknya untuk menggelar upacara, meski harus melaksanakan upacara di tempat parkir kendaraan yang berada tepat di depan kelas. “Kita tetap upacara walaupun kondisinya seperti ini,”katanya.

Dia menjelaskan, lahan sekolah memiliki ukuran memanjang 74×25 meter, sementara luas bangunan 56×14 meter, dengan jumlah siswa sebanyak 550 orang. “Semuanya kita wajibkan ikut upacara, kecuali jika selepas hujan, kita hanya mewajibkan siswa kelas akhir saja karena kondisi tanah yang becek,”tuturnya.

Bukan hanya tidak memiliki sarana upacara, sekolah yang hanya memiliki 7 buah ruang kelas dengan kondisi yang tidak refresentatif dalam belajar fasilitas seadanya ini harus membagi waktu jam belajar kedalam double sift.Ruang itu pun juga dimanfaatkan untuk perpustakaan dan unit kesehatan sekolah (UKS).

Di tahun 2013 kata Nuraini, sekolahnya sudah mendapatkan bantuan rehab ruang kelas, tetapi hal tersebut belum cukup memenuhi Standar Pendidikan Minimal (SPM) yang ditetapkan pemerintah, dari total jumlah siswa, rata-rata dalam satu kelas 40-42 orang.   Pihaknya sudah yang ke empat kali mengajukan proposal perbaikan gedung kepada pemerintah/ “Semoga proposal yang sudah diajukan ke empat kalinya ini bisa direalisasikan oleh pemerintah daerah.

Sejak berdiri pada tahun 1982 lalu, belum ada bantuan pemerintah. Memang sudah ada pejabat yang meninjau ke sekolah ini namun belum ada realisasi perbaikan gedung dan penambahan ruang kelas,”keluhnya.

Akibat kondisi yang ada Nuraini pesimis akan bisa menerapkan SPM yang ditetapkan pemerintah. “Bagaimana bisa, kalau siswa saja harus duduk berdesakan. Ini dapat mengganggu kenyamanan dalam proses belajar,” kataya.

Kisah miris SDN 230 Jalan Ki Merogan Mataram Palembang, adalah satu dari sekian ribu persoalan yang menghimpit dunia pendidikan kita saat ini. Kendati dana sektor pendidikan menempati urutan tinggi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 45 namun hal ini belum cukup untuk meretaskan persoalan demi persoalan yang terjadi di sektor pendidikan. Contoh kongkrit di SDN 230 ini. Lalu pertananyaan kapan generasi penerus cita-cita bangsa ini bisa bersaing dengan negara lain?(hasan basri)

You might also like More from author

Leave A Reply